Friday, September 13, 2013

Coffee Girl


Coffee Girl

Length: One-shot

Rating: G
Discalimer: All cast belong to God. This story is mine.

Enjoy this!
Don’t forget Read, Like, and Commnet!

Don’t like? And then, don’t read.

Plagiator? Doesn’t allowed
+
+



Coffee Cafe adalah tempat pertama yang akan Yoona kunjungi jika ada waktu luang. Seperti sekarang ini, kakinya berjalan menuju sebuah cafe yang ada diseberang jalan sekolahnya. Mata rusanya melirik kearah kanan dan diri, menunggu jalanan sedikit sepi. Lalu kaki kecilnya membawanya menuju pintu cafe.
Ting.. Ting.. Ting..
Bunyi bel itu adalah suara yang pertama kali ia dengar saat membuka pintu. Matanya menyelusuri tempat itu. Mencari kursi yang masih kosong. Matanya berbinar saat melihat satu meja dengan dua kursi kosong didekat jendela. Dengan gerakan refleks, kakinya membawa badannya menuju kursi tersebut.
High heels yang dipakainya beradu dengan kerasnya lantai marmer cafe itu. Suara ‘tok tok’ terdengar ditelingaya. Hampir sampai. Pikirnya. Ia terlalu lelah dengan semua tugas kampusnya sehingga tak menyadari sebuah tangan yang mendarat di atas tangannya saat ia hendak menggeser kursi.
Dahi Yoona menyerngit heran. Ini tangan siapa? Pikirnya. Kepalanya mendongkak. Mencoba mencari siapa pemilik tangan yang mendarat tepat di atas tangan Yoona.
Matanya melihat sosok seorang pemuda yang memakai kemeja kotak kotak, tangan kirinya berada di saku. Sedangkan tangan kanannya berada di atas tangan Yoona. Hening. Yoona maupun pemuda itu tidak mengeluarkan suara.
“Ehm.. Maaf nona. Tapi, kau harus mencari tempat duduk lain.” Suara khas seorang namja terdengar di telinga Yoona. Dahi Yoona berkerut, otaknya mencoba mencerna apa yang dikatakan namja yang tangannya masih berada di atas tangannya. Salahkan dosennya yang membuat otaknya bekerja terlalu maksimal, sehingga sekarang ia terlihat seperti orang bodoh.
“Nona?” Suara namja itu kembali memasuki telinganya.
“Ya?” Refleks, Yoona mengeluarkan suaranya. Otaknya bahkan tidak menyadari bahwa bibir kecilnya telah mengeluarkan suara.
“Maaf Nona, tapi kau harus mencari tempat duduk lain. Ini tempat duduk ku.” Namja itu berkata dengan nada datar. Sama sekali datar, tanpa ekspresi.
“Tapi aku yang pertama kali sampai di sini, Tuan. Jadi, kurasa kaulah yang harus mencari tempat duduk lain.” Ujar Yoona sambil menarik kursi yang sedari ia pegang, tak menghiraukan tatapan kesal dari sang namja. Dan langsung meletakkan badannya di kursi.
Mata rusanya mencari-cari buku menu yang biasanya ia temukan di atas meja.
“Aish~ dasar yeoja menyebalkan.” Samar-samar Yoona mendengar ocehan kesal namja yang tadi menyuruhnya mencari kursi lain.
Yoona mencoba tidak menghiraukan suara mengganggu yang berasal dari bibir namja yang sekarang sudah duduk di hadapannya. Tapi kesabarannya sudah menipis, bagaimana tidak? Namja  yang duduk di di depannya itu terus mengeluarkan kata-kata sumpah serapah yang ditujukan kepadanya.
Yoona menghela nafas dengan kasar. Tangannya melambai di udara, bermaksud untuk memanggil pelayan.
Tak lama kemudian seorang pelayan menghampiri meja yang terdapat dua kursi yang diduduki oleh Yoona dan seorang namja yang menurut Yoona sangat menyebalkan.
“Ingin memesan apa? Nona dan Tuan?” Suara pelayan itu dengan mudahnya masuk ke dalam telinga Yoona.
“Aku coffee biasa. Kau ingat kan?” Yoona menjwab dengan santainya.
“Ah, iya.” Pelayan itu mencatan pesanan Yoona. “Dan kau tuan?” Matanya beralih kepada namja yang duduk di seberang Yoona.
“Sama seperti yeoja di depan ku.” Pelayan itu hanya mengangguk-angguk dan mencatat pesanan namja itu. Dahi Yoona menyerngit heran. Matanya menatap namja menyebalkan yang sedang mengutak-atik handphone.  Dahinya masih berkerut keheranan. Merasa tidak mendapat respon Yoona mengalihkan pandangannya ke tas nya. Tangan kecilnya bergerak menuju tas. Lalu jari mungilnya membuka resleting tas. Yoona memasukkan tangannya ke dalam tas, mencari-cari sebuah barang.
Lima detik kemudian, Yoona mengeluarkan tangan mungilnya yang memegang sebuah novel. Matanya berbinar. Yah, setidaknya ia tidak akan mati kebosanan menunggu coffee ataupun mati kebosanan mendengar sumpah serapah yang sesekali namja menyebalkan itu ucapkan. Pikirnya.
Jari mungilnya membuka lembar demi lembar novel itu, matanya fokus memperhatikan setiap kata yang ada di kertas. Tiba tiba sebuah suara mengintrupsi kegiatannya. Yoona menghela nafasnya. Lalu jarinya menutup novel yang tadi ia baca. Matanya menuju seseorang yang tadi mengeluaran suara.
“Nona, kau tahu kenapa pesanan kita sangat lama datang?” Ternyata namja yang didepannya yang mengeluarkan suara. Yoona menghela nafas, lagi.
“Memangnya, kau tahu apa yang kau pesan?” Yoona bertanya dengan nada kesal.
“Tidak, memangnya apa?” Namja itu bertanya dengan muka polosnya yang membuat Yoona semakin kesal.
“Lalu, kenapa kau memesan hal yang sama sekali tidak kau ketahui.” Yoona menanggapinya –masih- dengan nada kesal.
Try something new.Namja itu menjawab dengan santai. Yoona tak menanggapi perkataan namja itu.
“Oh iya, nona. Kita belum berkenalan. Kenalkan nama ku Sehun, Oh Sehun.” Namja bernama Sehun itu mengulurkan tangannya. Berharap Yoona menyambut uluran tangannya.
Dahi Yoona berkerut keheranan. Tadi cuek, sekarang sok dekat. Dasar namja aneh. Pikirnya.
“Apakah harus?” Tanya Yoona cuek, jari mungilnya kembali membuka lembaran lembaran novel yang entah sejak kapan ada di pangkuannya.
Sehun tersenyum tipis. Yeoja yang menarik. Pikirnya.
“Ya, nona. Kalau tidak, aku akan terus mengganggumu.” Seringaian tipis terlukis di wajah tampah Sehun. Yoona menatapnya dengan alis terangkat. Namus sedetik kemudian ia tak peduli. Matanya kembali menelusuri kata-kata yang ada di kertas.
“Kau sekolah di Dongguk University?” Sehun bertanya dengan nada ingin tahu. Namun, sekali lagi. Yoona tidak menghiraukannya. Matanya masih memperhatikan kata-kata yang tercetak di kertas, seakan akan hal itu lebih menarik daripada menatap wajah tampan Sehun.
Sehun tak menyerah, bibirnya terus mengeluarkan pertanyaan pertanyaan yang menurut Yoona sangat mengganggu dan tidak penting. Seperti.
“Dimana rumahmu?”
“Apakah jauh dari sini?”
“Apakah kau punya saudara?”
“Kau kelas berapa?”
Namun, sama seperti pertanyaan pertanyaan sebelumnya. Yoona tak menjawabnya. Bahkan Yoona terlalu serius dengan novelnya sampai sampai ia tak mendengar apa yang Sehun tanyakan.
Hening.
Lima menit kemudian, pelayan yang tadi mencatat pesanan Yoona dan Sehun datang menghampiri mereka dengan membawa 2 buah gelas coffee. Yoona tersenyum kepada pelayan itu.
“Thanks.” Bibir Mungil Yoona membentuk sebuah lengkungan ke atas. Setelah meletakkan dua gelas coffee itu di atas meja. Pelayan itu meninggalkan Yoona dan Sehun dantara keheningan.
Jari lentik Yoona mengambil sebuah gelas berisikan coffe pesanannya. Ia meminum coffee itu sedikit demi sedikit. Sambil memejamkan matanya, menikmati sensasi yang ia rasakan jika meminum coffee.
Sehun hanya menatapnya bingung. Lalu bahunya sedikit mengangkat, dan kembali normal. Tangannya mengambil segelas coffee yang tersisa di meja. Tanpa melihat apa yang akan diminumnya, ia langsung menyesap coffee itu hingga hanya tersisa sedikit. Dahinya berkerut. Coffee apa ini? Herannya. Ia ingin bertanya kepada Yoona. Tapi, niatnya ia urungkan. Ia hanya melihat kegiatan Yoona. Menyesap sedikit demi sedikit, dan memejamkan matanya. Ia menirukan apa yang Yoona kerjakan.
Menyesap sedikit demi sedikit, lalu memejamkan matanya. Sedetik setelah coffee itu masuk kedalam mulutnya Sehun tersenyum. Ikut merasakan rasa dari coffee itu. Ternyata ini yang yeoja didepanku rasakan. Pikirnya. Lengkungan keatas yang terlukis di wajah tampannya belum terhapus. Matanya kembali memperhatikan Yoona yang masih menyesap coffeenya.
Neomu Yeoppo. Pikirnya. Lengkungan yang terlukis di wajah tampan Sehun semain melebar. Membuatnya terlihat lebih tampan.
Merasa diperhatikan, Yoona membuka matanya. Mata rusanya kini terarah ke Sehun. Yoona menghela nafasnya. Lalu menaruh coffee yang baru habis setengan di atas meja.
“Sebenarnya, apa maumu?” Yoona bertanya dengan kesal.
“Aku ingin kau menjadi pacarku, nona.” Ujar Sehun dengan santai, entah keberanian dari mana ia mengucapkan hal itu. Ia tak mengenal gadis didepannya itu, tapi hatinya terasa nyaman jika berada di dekatnya.
Mata Yoona membulat mendengar perkataan Sehun. Ia kaget. Terlalu kaget sampai ia tak menyadari mulutnya terbuka.
Satu detik.
Dua detik
Tiga detik.
Yoona tersadar, ia langsung menutup mulutnya. Lalu bibir mungilnya mengeluarkan suara.
“Kau kira, siapa kau? Aku bahkan tak mengenal siapa kau. Dan kau berkata bahwa kau ingin aku menjadi pacarmu? Jangan miri mpi.” Sehun tersenyum, ah bukan. Ia menyeringai saat melihat Yoona berdiri.
“Kau mau kemana, dear?” Yoona bergidik ngeri saat mendengar kalimat terakhir.
“Bukan urusanmu.” Yoona dengan kasar melepaskan tangan Sehun. Sehun hanya tersenyum kecil.
Yoona berjala menjauhi Sehun, menuju kasir. Lalu membayar coffee nya. Lalu kaki itu membawa Yoona mendekati pintu keluar. Kakinya ia hentakan keras keras. Rupanya Yoona sangat kesal.
Saat Yoona hampir sampai, ia mendengar suara yang menurutnya sangat menyebalkan.
COFFEE GIRL. AKU AKAN MEMANGGILMU COFFEE GIRL.” Sehun berteriak dengan suaranya yang sangat keras. Membuat perhatian seluruh pengunjung tertuju kepadanya. Yoona merotasikan matanya, lalu berbalik badan.
Whatever.” Yoona melanjutkan langkahnya keluar cafe itu.
Ia sangat menyesal telah datang ke cafe itu. Padahal ia tidak pernah menyesal.
Ia telah menetapkan hatinya, bahwa ia tidak akan datang kembali ke cafe itu lagi. Tidak akan pernah. Secinta cintanya ia kepada coffee. Ia tidak ingin peluangnya bertemu dengan namja gila tadi besar.
Aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di sini lagi. Yoona menetapkannya dalam hati.

END.

ps: pernah dipublikasikan di sini dan di sini

0 komentar:

Post a Comment