Coffee Girl
Length: One-shot
Rating: G
Discalimer: All cast belong
to God. This story is mine.
Enjoy this!
Don’t forget Read, Like, and
Commnet!
Don’t like? And then, don’t
read.
Plagiator? Doesn’t allowed
+
+
Coffee Cafe adalah tempat pertama yang akan Yoona kunjungi jika ada waktu luang.
Seperti sekarang ini, kakinya berjalan menuju sebuah cafe yang ada diseberang jalan sekolahnya. Mata rusanya melirik
kearah kanan dan diri, menunggu jalanan sedikit sepi. Lalu kaki kecilnya
membawanya menuju pintu cafe.
Ting.. Ting..
Ting..
Bunyi bel itu
adalah suara yang pertama kali ia dengar saat membuka pintu. Matanya
menyelusuri tempat itu. Mencari kursi yang masih kosong. Matanya berbinar saat
melihat satu meja dengan dua kursi kosong didekat jendela. Dengan gerakan
refleks, kakinya membawa badannya menuju kursi tersebut.
High heels yang dipakainya beradu dengan kerasnya lantai marmer cafe itu. Suara ‘tok tok’ terdengar ditelingaya. Hampir sampai.
Pikirnya. Ia terlalu lelah dengan semua tugas kampusnya sehingga tak menyadari
sebuah tangan yang mendarat di atas tangannya saat ia hendak menggeser kursi.
Dahi Yoona
menyerngit heran. Ini tangan siapa?
Pikirnya. Kepalanya mendongkak. Mencoba mencari siapa pemilik tangan yang
mendarat tepat di atas tangan Yoona.
Matanya melihat
sosok seorang pemuda yang memakai kemeja kotak kotak, tangan kirinya berada di
saku. Sedangkan tangan kanannya berada di atas tangan Yoona. Hening. Yoona
maupun pemuda itu tidak mengeluarkan suara.
“Ehm.. Maaf nona.
Tapi, kau harus mencari tempat duduk lain.” Suara khas seorang namja terdengar di telinga Yoona. Dahi
Yoona berkerut, otaknya mencoba mencerna apa yang dikatakan namja yang tangannya masih berada di
atas tangannya. Salahkan dosennya yang membuat otaknya bekerja terlalu
maksimal, sehingga sekarang ia terlihat seperti orang bodoh.
“Nona?” Suara namja itu kembali memasuki telinganya.
“Ya?” Refleks,
Yoona mengeluarkan suaranya. Otaknya bahkan tidak menyadari bahwa bibir
kecilnya telah mengeluarkan suara.
“Maaf Nona, tapi
kau harus mencari tempat duduk lain. Ini tempat duduk ku.” Namja itu berkata dengan nada datar. Sama sekali datar, tanpa
ekspresi.
“Tapi aku yang
pertama kali sampai di sini, Tuan. Jadi, kurasa kaulah yang harus mencari
tempat duduk lain.” Ujar Yoona sambil menarik kursi yang sedari ia pegang, tak
menghiraukan tatapan kesal dari sang namja.
Dan langsung meletakkan badannya di kursi.
Mata rusanya
mencari-cari buku menu yang biasanya ia temukan di atas meja.
“Aish~ dasar yeoja menyebalkan.” Samar-samar Yoona
mendengar ocehan kesal namja yang
tadi menyuruhnya mencari kursi lain.
Yoona mencoba tidak
menghiraukan suara mengganggu yang berasal dari bibir namja yang sekarang sudah duduk di hadapannya. Tapi kesabarannya
sudah menipis, bagaimana tidak? Namja yang duduk di di depannya itu terus
mengeluarkan kata-kata sumpah serapah yang ditujukan kepadanya.
Yoona menghela
nafas dengan kasar. Tangannya melambai di udara, bermaksud untuk memanggil
pelayan.
Tak lama kemudian
seorang pelayan menghampiri meja yang terdapat dua kursi yang diduduki oleh
Yoona dan seorang namja yang menurut
Yoona sangat menyebalkan.
“Ingin memesan apa?
Nona dan Tuan?” Suara pelayan itu dengan mudahnya masuk ke dalam telinga Yoona.
“Aku coffee biasa. Kau ingat kan?” Yoona
menjwab dengan santainya.
“Ah, iya.” Pelayan
itu mencatan pesanan Yoona. “Dan kau tuan?” Matanya beralih kepada namja yang duduk di seberang Yoona.
“Sama seperti yeoja di depan ku.” Pelayan itu hanya
mengangguk-angguk dan mencatat pesanan namja
itu. Dahi Yoona menyerngit heran. Matanya menatap namja menyebalkan yang sedang mengutak-atik handphone. Dahinya masih
berkerut keheranan. Merasa tidak mendapat respon Yoona mengalihkan pandangannya
ke tas nya. Tangan kecilnya bergerak menuju tas. Lalu jari mungilnya membuka
resleting tas. Yoona memasukkan tangannya ke dalam tas, mencari-cari sebuah
barang.
Lima detik kemudian,
Yoona mengeluarkan tangan mungilnya yang memegang sebuah novel. Matanya
berbinar. Yah, setidaknya ia tidak akan mati kebosanan menunggu coffee ataupun mati kebosanan mendengar
sumpah serapah yang sesekali namja
menyebalkan itu ucapkan. Pikirnya.
Jari mungilnya membuka
lembar demi lembar novel itu, matanya fokus memperhatikan setiap kata yang ada
di kertas. Tiba tiba sebuah suara mengintrupsi kegiatannya. Yoona menghela
nafasnya. Lalu jarinya menutup novel yang tadi ia baca. Matanya menuju
seseorang yang tadi mengeluaran suara.
“Nona, kau tahu
kenapa pesanan kita sangat lama datang?” Ternyata namja yang didepannya yang mengeluarkan suara. Yoona menghela
nafas, lagi.
“Memangnya, kau
tahu apa yang kau pesan?” Yoona bertanya dengan nada kesal.
“Tidak, memangnya
apa?” Namja itu bertanya dengan muka
polosnya yang membuat Yoona semakin kesal.
“Lalu, kenapa kau
memesan hal yang sama sekali tidak kau ketahui.” Yoona menanggapinya –masih-
dengan nada kesal.
“Try something new.” Namja itu menjawab dengan santai. Yoona tak menanggapi perkataan namja itu.
“Oh iya, nona. Kita
belum berkenalan. Kenalkan nama ku Sehun, Oh Sehun.” Namja bernama Sehun itu mengulurkan tangannya. Berharap Yoona
menyambut uluran tangannya.
Dahi Yoona berkerut
keheranan. Tadi cuek, sekarang sok dekat. Dasar namja aneh. Pikirnya.
“Apakah harus?”
Tanya Yoona cuek, jari mungilnya kembali membuka lembaran lembaran novel yang
entah sejak kapan ada di pangkuannya.
Sehun tersenyum
tipis. Yeoja yang menarik. Pikirnya.
“Ya, nona. Kalau
tidak, aku akan terus mengganggumu.” Seringaian tipis terlukis di wajah tampah
Sehun. Yoona menatapnya dengan alis terangkat. Namus sedetik kemudian ia tak
peduli. Matanya kembali menelusuri kata-kata yang ada di kertas.
“Kau sekolah di
Dongguk University?” Sehun bertanya
dengan nada ingin tahu. Namun, sekali lagi. Yoona tidak menghiraukannya.
Matanya masih memperhatikan kata-kata yang tercetak di kertas, seakan akan hal
itu lebih menarik daripada menatap wajah tampan Sehun.
Sehun tak menyerah,
bibirnya terus mengeluarkan pertanyaan pertanyaan yang menurut Yoona sangat
mengganggu dan tidak penting. Seperti.
“Dimana rumahmu?”
“Apakah jauh dari
sini?”
“Apakah kau punya
saudara?”
“Kau kelas berapa?”
Namun, sama seperti
pertanyaan pertanyaan sebelumnya. Yoona tak menjawabnya. Bahkan Yoona terlalu
serius dengan novelnya sampai sampai ia tak mendengar apa yang Sehun tanyakan.
Hening.
Lima menit
kemudian, pelayan yang tadi mencatat pesanan Yoona dan Sehun datang menghampiri
mereka dengan membawa 2 buah gelas coffee.
Yoona tersenyum kepada pelayan itu.
“Thanks.” Bibir
Mungil Yoona membentuk sebuah lengkungan ke atas. Setelah meletakkan dua gelas coffee itu di atas meja. Pelayan itu
meninggalkan Yoona dan Sehun dantara keheningan.
Jari lentik Yoona
mengambil sebuah gelas berisikan coffe
pesanannya. Ia meminum coffee itu
sedikit demi sedikit. Sambil memejamkan matanya, menikmati sensasi yang ia
rasakan jika meminum coffee.
Sehun hanya
menatapnya bingung. Lalu bahunya sedikit mengangkat, dan kembali normal.
Tangannya mengambil segelas coffee
yang tersisa di meja. Tanpa melihat apa yang akan diminumnya, ia langsung
menyesap coffee itu hingga hanya
tersisa sedikit. Dahinya berkerut. Coffee
apa ini? Herannya. Ia ingin bertanya kepada Yoona. Tapi, niatnya ia
urungkan. Ia hanya melihat kegiatan Yoona. Menyesap sedikit demi sedikit, dan
memejamkan matanya. Ia menirukan apa yang Yoona kerjakan.
Menyesap sedikit
demi sedikit, lalu memejamkan matanya. Sedetik setelah coffee itu masuk kedalam mulutnya Sehun tersenyum. Ikut merasakan
rasa dari coffee itu. Ternyata ini
yang yeoja didepanku rasakan.
Pikirnya. Lengkungan keatas yang terlukis di wajah tampannya belum terhapus.
Matanya kembali memperhatikan Yoona yang masih menyesap coffeenya.
Neomu Yeoppo. Pikirnya. Lengkungan yang terlukis di wajah tampan Sehun semain melebar.
Membuatnya terlihat lebih tampan.
Merasa
diperhatikan, Yoona membuka matanya. Mata rusanya kini terarah ke Sehun. Yoona
menghela nafasnya. Lalu menaruh coffee
yang baru habis setengan di atas meja.
“Sebenarnya, apa
maumu?” Yoona bertanya dengan kesal.
“Aku ingin kau
menjadi pacarku, nona.” Ujar Sehun dengan santai, entah keberanian dari mana ia
mengucapkan hal itu. Ia tak mengenal gadis didepannya itu, tapi hatinya terasa
nyaman jika berada di dekatnya.
Mata Yoona membulat
mendengar perkataan Sehun. Ia kaget. Terlalu kaget sampai ia tak menyadari
mulutnya terbuka.
Satu detik.
Dua detik
Tiga detik.
Yoona tersadar, ia
langsung menutup mulutnya. Lalu bibir mungilnya mengeluarkan suara.
“Kau kira, siapa
kau? Aku bahkan tak mengenal siapa kau. Dan kau berkata bahwa kau ingin aku
menjadi pacarmu? Jangan miri mpi.” Sehun tersenyum, ah bukan. Ia menyeringai
saat melihat Yoona berdiri.
“Kau mau kemana, dear?” Yoona bergidik ngeri saat
mendengar kalimat terakhir.
“Bukan urusanmu.”
Yoona dengan kasar melepaskan tangan Sehun. Sehun hanya tersenyum kecil.
Yoona berjala
menjauhi Sehun, menuju kasir. Lalu membayar coffee
nya. Lalu kaki itu membawa Yoona mendekati pintu keluar. Kakinya ia hentakan
keras keras. Rupanya Yoona sangat kesal.
Saat Yoona hampir
sampai, ia mendengar suara yang menurutnya sangat menyebalkan.
“COFFEE GIRL. AKU AKAN MEMANGGILMU COFFEE GIRL.” Sehun berteriak dengan
suaranya yang sangat keras. Membuat perhatian seluruh pengunjung tertuju
kepadanya. Yoona merotasikan matanya, lalu berbalik badan.
“Whatever.” Yoona melanjutkan langkahnya
keluar cafe itu.
Ia sangat menyesal
telah datang ke cafe itu. Padahal ia
tidak pernah menyesal.
Ia telah menetapkan
hatinya, bahwa ia tidak akan datang kembali ke cafe itu lagi. Tidak akan pernah. Secinta cintanya ia kepada coffee. Ia tidak ingin peluangnya
bertemu dengan namja gila tadi besar.
Aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di sini lagi. Yoona menetapkannya dalam hati.
END.

0 komentar:
Post a Comment